Pernahkah kamu duduk di sekitar meja besar, di mana di tengahnya ada panci besar berisi kuah panas mendidih, dikelilingi oleh berbagai bahan seperti daging tipis, sayuran segar, jamur, tahu, hingga seafood segar? Itulah pengalaman menikmati hot pot — sebuah tradisi makan yang bukan sekadar menyantap makanan, tapi juga tentang kebersamaan, kehangatan, dan keseruan.
Di artikel kali ini, saya akan mengajak kamu menyelami dunia hot pot, mulai dari asal-usulnya, kelezatan kuahnya, jenis bahan yang digunakan, hingga tips menikmati hot pot terbaik. Bagi kamu yang ingin tahu kenapa hot pot begitu populer dan jadi salah satu tren kuliner dunia, artikel ini wajib kamu baca sampai akhir.
Apa Itu Hot Pot?

Secara sederhana, hot pot adalah hidangan rebusan khas Asia Timur di mana bahan-bahan mentah dimasak langsung di meja makan menggunakan panci besar berisi kuah panas. Setiap orang duduk mengelilingi panci tersebut, menaruh bahan-bahan sesuai selera, dan menunggu hingga matang sambil bercengkerama Wikipedia.
Di beberapa negara, hot pot memiliki sebutan yang berbeda:
Di China, disebut huǒ guō (火锅) yang berarti “panci api”.
Di Jepang, dikenal dengan shabu-shabu atau sukiyaki.
Di Korea, dikenal sebagai jeongol.
Di Thailand, disebut Thai suki.
Di Vietnam, dikenal sebagai lẩu.
Meski memiliki variasi nama dan gaya, prinsipnya tetap sama: menikmati makanan rebus panas-panas bersama orang-orang terdekat.
Sejarah dan Asal-usul Hot Pot
Hot pot dipercaya berasal dari Tiongkok Utara lebih dari 1.000 tahun yang lalu, terutama di daerah sekitar Sungai Yangtze. Pada masa itu, para penggembala dan pekerja pelabuhan di musim dingin mencari cara untuk tetap hangat sambil makan bersama. Mereka mulai merebus daging, sayuran, dan rempah-rempah dalam satu panci besar.
Dari sinilah, tradisi hotpot lahir.
Seiring waktu, tradisi ini menyebar ke seluruh Asia dengan berbagai modifikasi rasa dan bahan lokal. Misalnya:
Di Sichuan, kuah hotpot terkenal dengan rasa pedas dan numbing berkat penggunaan lada Sichuan dan cabai kering.
Di Beijing, hotpot menggunakan kaldu bening dengan bahan utama seperti daging domba.
Di Hong Kong, kuahnya lebih ringan dan disajikan dengan aneka seafood segar.
Di Jepang, gaya hotpot lebih lembut dan beraroma, dengan kuah berbasis kombu (rumput laut).
Kini, hot pot telah mendunia dan menjadi menu wajib di banyak restoran Asia modern.
Mengapa Hot Pot Begitu Populer?
Popularitas hotpot bukan hanya karena rasanya yang lezat, tetapi juga karena pengalaman sosial dan interaktif yang ditawarkan. Beberapa alasan mengapa orang jatuh cinta pada hotpot:
a. Kebersamaan di Sekitar Meja
Hotpot mengundang orang untuk duduk bersama, berbagi bahan, dan menikmati makanan dalam suasana santai. Tak heran, hidangan ini sering disajikan pada acara keluarga, reuni, atau perayaan.
b. Pilihan Bahan yang Beragam
Kamu bisa menyesuaikan isian hotpot sesuai selera: daging sapi, ayam, udang, cumi, tahu, sayuran, bahkan mie. Setiap gigitan bisa berbeda rasa.
c. Keseimbangan Nutrisi
Hot pot cenderung lebih sehat, karena bahan-bahan direbus, bukan digoreng. Kuah kaldu yang kaya rempah juga menambah nilai gizi.
d. Fleksibilitas Rasa
Kamu bisa memilih kuah sesuai selera — mulai dari kuah pedas Sichuan, kaldu ayam bening, tom yam khas Thailand, hingga kuah susu Jepang.
e. Pengalaman Kuliner yang Unik
Setiap negara punya versi hotpot sendiri. Inilah yang membuatnya menarik bagi para pencinta kuliner dunia.
Jenis-jenis Kuah HotPot yang Paling Disukai
Bagian paling penting dari hotpot adalah kuahnya. Kuah menjadi dasar rasa yang menyatukan semua bahan. Berikut beberapa jenis kuah hotpot populer di berbagai negara:
a. Kuah Sichuan (Pedas dan Numbing)
Kuah ini menggunakan lada Sichuan, cabai kering, jahe, dan bawang putih. Rasa pedasnya membakar lidah, tapi ada sensasi “kebas” yang membuat ketagihan.
b. Kuah Kaldu Bening
Biasanya terbuat dari tulang ayam atau sapi yang direbus lama. Rasanya lembut dan cocok untuk mereka yang tidak suka pedas.
c. Kuah Tom Yum (Thailand)
Kuah tom yum memiliki rasa asam-pedas segar dari campuran serai, daun jeruk, cabai, dan jeruk nipis. Cocok untuk penggemar cita rasa kuat.
d. Kuah Susu Jepang
Terbuat dari kombu dan susukedelai, menghasilkan rasa gurih lembut yang creamy. Sering digunakan pada shabu-shabu.
e. Kuah Herbal
Banyak restoran modern menawarkan kuah berbasis herbal tradisional, dipercaya menyehatkan dan meningkatkan imunitas.
Bahan-bahan Favorit dalam HotPot
Salah satu keseruan menikmati hotpot adalah memilih bahan-bahan yang ingin dimasak. Berikut daftar bahan paling populer:
1. Daging Sapi
Potongan daging sapi tipis menjadi primadona hotpot. Biasanya digunakan bagian sirloin, brisket, atau ribeye agar cepat matang dan empuk.
2. Daging Domba
Khusus di hot pot gaya Beijing, daging domba adalah bintang utama. Teksturnya lembut dan punya rasa khas.
3. Seafood
Udang, cumi, ikan fillet, dan kepiting memberikan sensasi segar dan manis alami pada kuah.
4. Sayuran
Bayam, sawi, pok choy, jamur enoki, brokoli, dan daun selada menambah keseimbangan nutrisi.
5. Tahu dan Produk Kedelai
Tahu sutra, tahu goreng, atau kulit tahu memberikan variasi tekstur menarik.
6. Aneka Bakso
Mulai dari bakso sapi, ikan, hingga bakso keju, semuanya cocok dimasukkan ke panci panas.
7. Mie dan Nasi
Setelah puas merebus bahan utama, biasanya mie atau nasi ditambahkan untuk menutup sesi makan dengan kenyang.
Saus Cocolan: Rahasia Nikmat HotPot
Selain kuah, saus cocolan (dipping sauce) menjadi elemen penting yang membuat hotpot makin lezat. Di tiap daerah, saus ini punya gaya unik.
Contohnya:
Sichuan: saus wijen + bawang putih + kecap asin + cabai cincang
Taiwan: campuran kecap asin, bawang putih, daun ketumbar, dan saus kacang
Jepang (Shabu-shabu): menggunakan ponzu (saus jeruk) atau goma dare (saus wijen)
Vietnam: saus hoisin dan sambal bawang
Kamu juga bisa berkreasi sendiri, mencampur saus sesuai selera. Itulah keindahan hotpot — tak ada aturan pasti, hanya kesenangan.
Cara Menikmati Hot Pot Seperti Profesional
Meskipun terlihat mudah, menikmati hotpot juga ada “etikanya” agar semua bahan matang sempurna dan tidak berebut di panci. Berikut tipsnya:
Mulai dari bahan berlemak dan keras dulu, seperti daging dan seafood.
Masukkan sayuran dan tahu belakangan, agar tidak terlalu lembek.
Gunakan sumpit terpisah untuk bahan mentah dan matang demi kebersihan.
Jangan lupa cicipi kuah di akhir, karena rasa kuah akan semakin kaya setelah banyak bahan direbus.
Nikmati secara perlahan sambil berbincang, karena hotpot bukan hanya soal makan, tapi soal suasana.
Baca fakta menarik seputar : Culinary
Baca juga artikel lainnya tentang : Warabimochi: Camilan Tradisional Jepang yang Cocok untuk Lidah Indonesia
